Ryan Disambut Seperti Artis

Kompas.com - 15/08/2008, 09:56 WIB

JAKARTA, JUMAT - Kehadiran tersangka pelaku pembunuhan berantai Very Idham Henyaksyah alias Ryan (30) di RS Polri di Kramatjati, Jakarta Timur, membuat kaget para pengunjung rumah sakit itu. Ketika disapa pengunjung, Ryan tersenyum dan melambaikan tangan.

"Saya kaget begitu melihat Ryan dari jarak dekat, biasanya cuma lihat di televisi. Waktu dia digiring polisi, saya nyeletuk ini Ryan ya? Ganteng juga Iho.... Eh, dia lempar senyum," ucap Ny Else (39), warga Cilincing, yang berada di rumah sakit itu untuk membesuk kerabatnya, Kamis (14/8) sore.

Else yang didampingi saudarinya, Mitha (24), bertemu Ryan ketika tersangka pembunuh itu keluar dan ruang perawatan, Kamis, sore. Mereka juga kaget karena Ryan, ketika mereka sapa, bersikap seperti artis yang disapa penggemamya.

Terkait dengan hukuman bag Ryan, Else dan Mitha mengatakan, hendaknya Ryan dijatuh hukuman yang setimpal dengar perbuatannya. "Dia kan sudah membunuh banyak orang, sepantasnya dihukum mati saja," ucap Mitha yang juga mengaku kaget ketika melihat Ryan dari dekat.

Seperti diberitakan, Rabu petang Ryan dilarikan ke RS Polri karena muntah darah dan pingsan di selnya di Ruang Tahanan Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya. Ryan kemudian dirawat di ruang perawatan khusus tahanan di lantai dua RS Polri. Ryan yang memakai pakaian seragam tahanan berwarna oranye dijaga enam polisi.

Kemarin sore, sekitar pukul 16.00, Ryan keluar dari ruang perawatan. Dalam perjalanan ke mobil yang akan membawanya kembali ke ruang tahanan Mapolda Metro Jaya, kepala Ryan ditutupi jaket warna hitam sehingga para fotografer kesulitan mengabadikan wajahnya. Ryan dibawa ke mapolda dengan sedan Toyota Vios warna silver benomor polisi B 8597 DY.

Kombes dr Dasril, dokter RS Polri yang memeriksa Ryan mengatakan, Ryan mengalami pendarahan di lambung. Setelah dirawat semalam, Ryan diizinkan untuk dikembalikan ke ruang tahanan.

Mobil Vios yang membawa Ryan tiba di Mapolda Metro Jaya sekitar setengah jam sejak meninggalkan RS Polri. Saat itu, puluhan wartawan maupun fotografer telah berkumpul di dekat pintu gerbang ruang tahanan direktorat narkoba. Mobil yang membawa Ryan sempat dua kali melewati kerumunan wartawan sebelum akhirnya meluncur dengan cepat menuju pintu gerbang yang digerakkan dengan tenaga listrik.

Ketika pintu gerbang terbuka, para wartawan maupun fotografer berlari mengikuti mobil Vios. Namun, sejumlah petugas segera menghadang mereka. Bahkan, sempat terjadi dorong-dorongan antara petugas dan wartawan sehingga para jurnalis kehilangan momentum Ryan turun dari mobil dan melangkah masuk ruang tahanan.

Para wartawan menyesalkan sikap petugas di ruang tahanan narkoba. Mereka menilai penjagaan terhadap Ryan berlebihan. "Kok penjagaannya berlebihan amat sih, padahal kita cuma mau ngambil gambar," ujar Edi, wartawan senior yang bajunya robek ditarik petugas dalam insiden dorong-dorongan di ruang tahanan direktorat narkoba.

Keluhan senada diungkapkan Ferry, wartawan Ibu Kota. "Kesannya Ryan diistimewakan, padahal penjagaan terhadap tersangka lain tidak seperti itu," katanya.

Mr X

Penyidik Polda Metro Jaya menilai bukti dan pengakuan Ryan telah cukup untuk dijadikan dasar pemberkasan kasus mutilasi terhadap Heri Santoso sehingga tidak diperlukan rekonstruksi. "Rekonstruksi tidak akan dilaksanakan. Nanti, jika kami rasa perlu, baru dilakukan," ujar Kepala Satuan Kejahatan dengan Kekerasan (Jatanras) Polda Metro Jaya, AKBP Fadhil Imran, kemarin.

Menurut Fadhil, rekonstruksi merupakan upaya untuk melengkapi berkas suatu perkara. Bila penyidik menganggap berkas sudah lengkap tanpa menggelar rekonstruksi, maka rekonstruksi tidak perlu dilaksanakan. Saat ditanya tentang boneka yang disiapkan penyidik, Fadhil menjawab, "Ya, buat persiapan saja."

Kemarin, beredar kabar bahwa hari itu akan digelar rekonstruksi mutilasi Heri Santoso di Apartemen Margonda Residence, Depok. Namun, hingga petang, tak ada rekonstruksi di lokasi tersebut.

Secara terpisah, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Abubakar Nataprawira menjelaskan, lima dan enam jenazah korban Ryan yang ditemukan pada penggalian tahap dua, akan diserahkan kepada keluarga pada hari Jumat (16/8) ini di Surabaya. Kelimanya adalah ibu anak Nani Hidayati Silvia D Ramadani, Agustinus Fitri Setyawan, M Zainul Abidin, (semuanya warga Jombang), dan M Aksoni (Sidoarjo).

Sedangkan satu jenazah lainnya, dengan nomor register 026, masih berstatus belum dikenal atau Mr X. Menurut Abubakar, ada empat keluarga yang mengaku sebagai kerabat jenazah nomor 026 tersebut. Namun, katanya, polisi belum dapat memastikan keluarga mana yang merupakan kerabat Mr X tersebut.

Pembohong

Pesinetron Indra Lesmana Bruggman membantah mengenal Ryan. "Gue nggak pernah kenal Ryan. Gue tahu dia melalui media massa. Sekarang, semua orang juga tahu siapa dia," katanya ketika ditemui di Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (14/8) pagi.

Hari itu, Indra bagaikan muncul dari persembunyian. Seperti diberitakan, pekan lalu Ryan mengaku kenal baik dengan Indra Bruggman. Sejak pernyataan Ryan tersebut tersiar ke masyarakat, Indra sulit ditemui untuk dimintai konfirmasinya.

Lebih jauh, mantan kekasih Dhini Aminarti ini menuding 'sang jagal' dari Jombang itu adalah pembohong. "Ryan kan membunuh korbannya dengan cara membohongi mereka dulu, masa kalian (wartawan-Red) masih percaya dengan kata-kata dia. Nih, lihat mata gue kalo elu nggak percaya. Masa gue bohong," ujarnya seraya meminta para pewarta melihat matanya.

Indra memang tak pernah lepas dari kabar panas. Gosip terakhir tentang dia yang membuat banyak orang terhenyak adalah soal pernikahannya dengan aktor Bertrand Antolin.

Baik Indra maupun Bertrand sontak membantah kabar itu. Namun keduanya tak menampik bahwa mereka tinggal satu apartemen dan sehingga melakukan aktivitas bersama. Tapi bukan berarti keduanya berpacaran.

Sebenarnya ada cara ampuh buat Indra agar terlepas dari cap gay, yakni menikah. "Duh itu kan nggak ada sangkut pautnya. Lagian gue nggak siap dan nggak mau buru-buru (nikah)," kata artis blasteran Belanda-Sunda ini. (Ded/Wid/Kompas.com)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau